Kamis, 25 Juli 2013

Internet Sehat Untuk Pertanian

INTERNET SEHAT UNTUK PERTANIAN


                Di era globalisasi yang serba modern ini hampir semua hal dapat didapat.  Serta membuat kemajuan teknologi berkembang pesat.  Hal ini membuat banyak orang mengambil kesempatan untuk membuka usaha sebanyak – banyaknya dan seluas – luasnya.  Teknologi Informasi dan Komunikasi khususnya di bidang internet merupakan salah satu akses yang oleh para produsen untuk mengembangkan produk mereka.  Hal ini juga mempengaruhi para petani atau di bidang pertanian.
                Para petani dapat diuntungkan ataupun dirugikan dengan adanya  akses internet di era globalisasi ini.  Para petani yang mengalami keuntungan dapat mengalami keuntungan yang sangat besar.  Sebaliknya jika mengalami kerugian para petani dapat mengalami kebangkrutan.  Hal ini juga dapat menguntungkan para masyarakat dalam bidang pertanian.  Dalam hal ini pemerintahpun juga ikut membantu para petani agar tidak mengalami kebangkrutan.
                Keuntungan para petani dapat membantu di bidang pertanian dan penjualan hasil pertanian.  Dengan adanya internet para petani dapat mencari tehnik bercocok tanam yang lebih praktis dan lebih baik.  Serta mencari bibit unggul melalui internet dan mengembangkannya lagi.  Para petani juga dapat menjual hasil pertanian ke wilayah lebih luas menggunakan jaringan internet.  Sehingga para petani dapat mengembangkan usahanya dan mendapatkan lebih banyak konsumen.
                Kerugian yang dapat dialami para petani dapat membuat para petani bangkrut dan merusak reputasi petani.  Persaingan di antara para petani dapat membuat para petani mengalami kerugian.  Serta membuat petani kalah saing dengan hasil tani impor yang lebih diunggulkan.  Cyber Crime juga dapat merugikan para petani dengan cara penipuan.  Oleh karena itu para petani diharuskan    berhati – hati dalam menggunakan internet.
                Teknologi Informasi juga berperan terhadap pemasaran hasil pertanian, berbagai macam bisnis saai ini sudah semakin adaptif terhadap kemajuan teknologi informasi.  Pola bisnis konvensional sudah tidak terlalu sering dilakukan dan cenderung bergerak ke arah bisnis dengan memasarkan produknya ke dunia maya seperti pemasaran melalui media web, transaksi online, bahkan pemasaran melalui jejaring sosial.  Pemasaran produk pertanian melalui internet tentunya lebih ekonomis daripada secara konvensional.  Para petani dapat dengan mudah mengetahui kebutuhan pasar.
                Di negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Korea  sudah banyak          petani-petani yang memasdarkan hasil pertaniannya melalui internet.  Mereka dapat memantau  pemasaran melalui website yang khusus dibuat untuk proses jual beli.  Mereka dengan mudah memasarkan hasil pertaniannya ke seluruh dunia dan biasa melakukan transaksi dengan cara transfer, maka sangat canggih, praktis, dan tentunya lebih ekonomis, serta efisien.
                Di Amerika Serikat ada sekitar 2,1 juta peternakan dengan nilai produksi melebihi $217 miliar dan biaya produksi melebihi $190 miliar.  Pertanian memiliki peran yang lebih menonjol.   Meskipun sering disebut sebagai petani, maka produsen pertanian adalah penjual dan sekaligus pembeli, dan penting untuk setiap bisnis yaitu tentang target pasar yang besar untuk memahami bagaimana keputusan pembelian yang dibuat dan apa yang diharapkan dari adanya komunikasi pemasaran.  Pertanian merupakan salah satu budaya industri tertua dan selalu berhadapan dengan banyak perubahan.
                Keadaan ini membawa efek kombinasi, bahkan jumlah produsen pertanian di Amerika Serikat menurun dari 6,8 juta (1935) menjadi 2,1 juta (2004).  Industri pertanian sebagai produsen telah dipaksa untuk menyerap lebih banyak tagihan yang belum dibayarkan dengan profitabilitas memburuk.  Penurunan profit margin dan meningkatnya jumlah kegagalan ternak dan menyebabkan pesimisme. 
    Koneksi internet menyediakan berbagai fungsi dan manfaat kepada produsen pertanian.  Namun, menurut laporan oleh National Agricultural Statistics Service Amerika Serikat, hanya sekitar setengah dari produsen pertanian memiliki akses internet.  Sementara laporan statistik penggunaan internet berbeda-beda, dengan beberapa studi melaporkan penggunaan biaya operasional rendah, dan laporan lain lebih tinggi.  Sekitar 8 persen dari produsen pertanian melakukan transaksi e-commerce (USDA-NASS Farm Komputer Penggunaan dan Kepemilikan 2003), di sisi lain para produsen yang membeli atau menjual on-line cenderung lebih besar.

    Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan Internet dan tujuan yang digunakan mungkin berbeda-beda menurut jenis operasionalnya.  Misalnya, peternak akan lebih cenderung untuk membeli produk pertanian yang lebih bersih daripada kedelai growers.  Dari produsen melakukan transaksi e-commerce, lebih dari 40 persen laporan pada pembelian tanaman, 33 persen membeli ternak dan 25 persen menjual ternak melalui Internet.

Sumber:
http://bbppbatu.bppsdmp.deptan.go.id
http://tugaskelompokblogpertanian.blogspot.com
http://kelompok3mismtriv2012.blogspot.com
http://kumenulis-ini.blogspot.com
http://miswinda.wordpress.com
http://pertanianbutuhkomunikasi.blogspot.com
http://aprienkurniawan04.blogspot.com
http://kelompok6perkebunan.blogspot.com

Minggu, 20 Januari 2013

LiniMassa


LiniMassa

          Film ini tentang penggunaan internet untuk mencari keuntungan dalam social network ataupun commercial network.  Dalam hal ini membahas Indonesia yang mempunya banyak penduduk hingga 220 juta orang.  Pengguna Facebook di Indonesia ada sekitar 30,1 juta membuat Indonesia berada di nomor 2 pengguna Facebook terbanyak di dunia.  Pengguna Twitter di Indonesia ada sekitar 6,2 juta dan membuat Indonesia nomor 3 terbesar di asia.   Pengguna Internet di Indonesia ada 45 juta pelanggan.  Pengguna blogger di Indonesia diperkirakan 2,7 juta.  Pengguna telepon seluler di Indonesia terdapat sebanyak 150-180 juta orang.  Data-data tersebut membuktikan bahwa penggunaan social media di Indonesia sangat besar.          

          Banyak orang menggunakan social network di internet untuk bersosialisasi, bahkan banyak orang menggunakan kesempatan ini untuk mencari keuntungan mempromosikan produknya.  Contohnya saja seorang single parent di Yogya bernama Blassius Haryadi menggunakan facebook sebagai media mempromosikan pekerjaannya sebagai tukang becak.  Dengan facebook dia dapat mendapatkan pelanggan dari luar negeri walaupun dia hanya tukang becak,  dia juga melayani pelanggan – palanggan yang ingin booking hotel dan lain sebagainya.  Sehingga dia bekerja sebagai tukang becak dan juga tour guide di kota Yogya.                                                                   

          Internet juga membuka kesempatan bagi orang yang mempunyai kekurangan fisik.  Pemerintah Indonesia memberi kesempatan untuk bekerja sebagai PNS (Pegawai Negeri Swasta).   Sebagai PNS mereka harus mengerti tentang komputer, oleh karena itu mereka belajar tentang komputer.  Mereka belajar tentang berbagai macam contohnya:  Ms.Word, Corel Draw, Photoshop, Blog, dll.  Contohnya seorang lelaki yang mempuyai kekurangan fisik bernama Anto Darmanto belajar tentang blog, Corel Draw, Photoshop.  Anto belajar dai teman bloggernya yang bersedia memberi kursus, sehingga Antopun tertarik dan ikut belajar.                                                    

          Seorang wanita bernama Valensia Mieke Randa mendirikan sebuah community bernama “Blood For Life”.  Community ini didirikan untuk menyumbangkan darah, terutama darah AB yang cukup langka.  Community ini semakin berkembang melalui Blackberry Messenger dan Twitter.  Suatu malam ada seorang wanita berumur 25 tahun membutuhkan darah untuk operasi.  Valensiapun dengan cepat menghubungi teman-teman dan share tentang keadaan darurat ini.  Akhirnya orang-orangpun datang dan menyumbangkan sebagian darahnya untuk operasi, sehingga nyawa seorang wanita ini tertolong.      

          Agustus 2008, seorang ibu rumah tangga bernama Prita Mulyasari menulis melalui e-mail dan surat kabar tetang keluhan di sebuah rumah sakit swasta di Tangerang.  Dengan UU Informasi, dan Transaksi Elektronik (ITE), pihak rumah sakit menggugat pidana dan perdata, sehingga Prita dipenjara semala 3 minggu, dan harus membayar denda sebesar Rp. 204 juta.  Melalui social media dukungan masyarakat datang, dan berupaya mengunpulkan dana untuk membayar denda Prita.  Menurut Yanuar Nugroho dari Machester University,  kasus Prita lebih mendapat dukungan dari pada kasus lumpur Lapindo.  Kenapa? Karena kasus Prita beresonansi (bersangkutan) dengan pengguna internet, kita tau bahwa penguna internet di Indonesia sangat besar.  Sehingga kasus Prita mendapat banyak dukungan dari banyak pihak termasuk pengguna Internet.

          Oktober 2009,  dua anggota KPK, Bibit Samad Rianto, dan Chandra M Hamzah ditahan atas tuduhan menyalah gunakan wewenang, dan menerima suap.  Otoritas politik, dan kepolisian dituding berada di balik kriminalisasi kedua orang tersebut, dengan target melemahkan instuisi KPK.  Gerakan mendukung Bibit-Chandra terjadi di Internet hingga jalanan, sebelum akhirnya tidak diteruskan ke pengadilan.  Usman Yasin, pendiri gerakan 1 juta di facebook berhasil mengunpulkan anggota lebih dari 1 juta facebookers.  Dikarenakan mungkin karena waktu yang tepat karena masyarakat jenuh dengan korupsi.

          Ahmad Nasir, koordinator dari Jalin Merapi di Twitter menyebarkan tentang apa yang terjadi saat gunung merapi meletus.  Sebenarnya para relawan berasal dari teman-teman dekat namun karena banyk yang ingin membantu tetapi tidak tau harus bangai mana untuk menjadi relawan.  Akhirnya dibuat formulir pendaftaran melalui internet agar semua orang bisa ikut menjadi relawan.

          Dari pengalaman, dan cerita di atas dapat diambil kesimpulan bahwa jika Internet digunakan benar, dioptimalkan dengan sepositif mungkin, Internet dapat memberi manfaat yang luar biasa besar.