INTERNET SEHAT UNTUK PERTANIAN
Di era globalisasi yang serba modern ini hampir semua hal
dapat didapat. Serta membuat kemajuan
teknologi berkembang pesat. Hal ini
membuat banyak orang mengambil kesempatan untuk membuka usaha sebanyak –
banyaknya dan seluas – luasnya. Teknologi
Informasi dan Komunikasi khususnya di bidang internet merupakan salah satu
akses yang oleh para produsen untuk mengembangkan produk mereka. Hal ini juga mempengaruhi para petani atau di
bidang pertanian.
Para
petani dapat diuntungkan ataupun dirugikan dengan adanya akses internet di era globalisasi ini. Para petani yang mengalami keuntungan dapat
mengalami keuntungan yang sangat besar.
Sebaliknya jika mengalami kerugian para petani dapat mengalami
kebangkrutan. Hal ini juga dapat
menguntungkan para masyarakat dalam bidang pertanian. Dalam hal ini pemerintahpun juga ikut
membantu para petani agar tidak mengalami kebangkrutan.
Keuntungan
para petani dapat membantu di bidang pertanian dan penjualan hasil
pertanian. Dengan adanya internet para
petani dapat mencari tehnik bercocok tanam yang lebih praktis dan lebih
baik. Serta mencari bibit unggul melalui
internet dan mengembangkannya lagi. Para
petani juga dapat menjual hasil pertanian ke wilayah lebih luas menggunakan
jaringan internet. Sehingga para petani
dapat mengembangkan usahanya dan mendapatkan lebih banyak konsumen.
Kerugian
yang dapat dialami para petani dapat membuat para petani bangkrut dan merusak
reputasi petani. Persaingan di antara
para petani dapat membuat para petani mengalami kerugian. Serta membuat petani kalah saing dengan hasil
tani impor yang lebih diunggulkan. Cyber
Crime juga dapat merugikan para petani dengan cara penipuan. Oleh karena itu para petani diharuskan berhati – hati dalam menggunakan internet.
Teknologi
Informasi juga berperan terhadap pemasaran hasil pertanian, berbagai macam
bisnis saai ini sudah semakin adaptif terhadap kemajuan teknologi informasi. Pola bisnis konvensional sudah tidak terlalu
sering dilakukan dan cenderung bergerak ke arah bisnis dengan memasarkan
produknya ke dunia maya seperti pemasaran melalui media web, transaksi online,
bahkan pemasaran melalui jejaring sosial. Pemasaran produk pertanian melalui internet
tentunya lebih ekonomis daripada secara konvensional. Para petani dapat dengan mudah mengetahui
kebutuhan pasar.
Di
negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Korea sudah
banyak petani-petani yang
memasdarkan hasil pertaniannya melalui internet. Mereka dapat memantau pemasaran
melalui website yang khusus dibuat untuk proses jual beli. Mereka dengan mudah memasarkan hasil
pertaniannya ke seluruh dunia dan biasa melakukan transaksi dengan cara
transfer, maka sangat canggih, praktis, dan tentunya lebih ekonomis, serta efisien.
Di
Amerika Serikat ada sekitar 2,1 juta peternakan dengan nilai produksi melebihi
$217 miliar dan biaya produksi melebihi $190 miliar. Pertanian memiliki peran yang lebih menonjol. Meskipun sering disebut sebagai petani, maka
produsen pertanian adalah penjual dan sekaligus pembeli, dan penting untuk
setiap bisnis yaitu tentang target pasar yang besar untuk memahami bagaimana
keputusan pembelian yang dibuat dan apa yang diharapkan dari adanya komunikasi
pemasaran. Pertanian merupakan salah
satu budaya industri tertua dan selalu berhadapan dengan banyak perubahan.
Keadaan
ini membawa efek kombinasi, bahkan jumlah produsen pertanian di Amerika Serikat
menurun dari 6,8 juta (1935) menjadi 2,1 juta (2004). Industri pertanian sebagai produsen telah
dipaksa untuk menyerap lebih banyak tagihan yang belum dibayarkan dengan
profitabilitas memburuk. Penurunan
profit margin dan meningkatnya jumlah kegagalan ternak dan menyebabkan
pesimisme.
Koneksi
internet menyediakan berbagai fungsi dan manfaat kepada produsen pertanian. Namun, menurut laporan oleh National
Agricultural Statistics Service Amerika Serikat, hanya sekitar setengah dari
produsen pertanian memiliki akses internet. Sementara laporan statistik penggunaan
internet berbeda-beda, dengan beberapa studi melaporkan penggunaan biaya
operasional rendah, dan laporan lain lebih tinggi. Sekitar 8 persen dari produsen pertanian melakukan
transaksi e-commerce (USDA-NASS Farm Komputer Penggunaan dan Kepemilikan 2003),
di sisi lain para produsen yang membeli atau menjual on-line cenderung lebih
besar.
Penelitian
menunjukkan bahwa penggunaan Internet dan tujuan yang digunakan mungkin berbeda-beda
menurut jenis operasionalnya. Misalnya,
peternak akan lebih cenderung untuk membeli produk pertanian yang lebih bersih
daripada kedelai growers. Dari produsen
melakukan transaksi e-commerce, lebih dari 40 persen laporan pada pembelian
tanaman, 33 persen membeli ternak dan 25 persen menjual ternak melalui Internet.
Sumber:
http://bbppbatu.bppsdmp.deptan.go.id
http://tugaskelompokblogpertanian.blogspot.com
http://kelompok3mismtriv2012.blogspot.com
http://kumenulis-ini.blogspot.com
http://miswinda.wordpress.com
http://pertanianbutuhkomunikasi.blogspot.com
http://aprienkurniawan04.blogspot.com
http://kelompok6perkebunan.blogspot.com








